| FB dan batik lokal |
|
|
|
| Ditulis Oleh Andimiswar Personal Site | |
| Sabtu, 03 Oktober 2009 | |
Adalah Abubakar Hadado yang memosting soal batik di FB. Topik ini kemudian menjalar menjadi sebuah diskusi panjang dan menarik. Walaupun beberapa komentar out of topic [oot], namun tetap saja diskusi “liar” ini bisa menjadi inspirasi bagi kita di Sulteng untuk pengembangan batik lokal. Untuk pengembangan batik lokal, Disperingdakop kota Palu sudah berupaya mengembangkan industri batik lokal. Melalui Camat Palu Utara yang saat itu dijabat Sudaryano Lamangkona sudah melakukan pembinaan dan bantuan permodalan beberapa pengrajin lokal-khususnya di Palu Utara– dan mendatangkan seorang tutor dari Pulau Jawa. Menurut Anno- sapaan akrab Sudaryano–sampai saat ini, kelompok tersebut telah mendapat order dari sejumlah sekolah untuk seragam batik. Namun, kata Anno yang saat ini menjabat Kadis Pariwisata Kota Palu, kendalanya saat ini soal dana produksi untuk membeli bahan baku [....] Wisnu Pettalolo, salah seorang pengurus HIPMI Pusat sangat tertarik dengan ide itu. Menurut Wisnu yang juga Ketua VI (Bidang Properti), HIPMI secara moral sangat mendukung Pengembangan batik khas daerah. Lanjut Wisnu, pihak HIPMI sudah lebih awal menggalakkan pemakaian batik sehari-hari. Pada tahun 1999, Ketua Umum Hipmi Muhammad Lutfi sering dicandain orang: “mau ke kondangan ya?”, kata Wisnu seperti dikutip dari diskusi di jejaring sosial itu. Putra Donggala yang kini berkiprah di Jakarta ini mempunyai pengalaman soal batik saat berada di shopping centre Duomo Milan. Wisnu melihat seorang bule yang mengenakan batik. Wisnu pun mendekat dan menanyakan dimana beli batiknya. Bule itu lalu menunjukkan toko penjual batik yang ternyata milik bule itu sendiri. Menurut bule itu, batik yangdijual di tokonya berasal dari Solo dan Jogja yang harganya Rp. 100 ribu perlembar. Tetapi bule itu menjualnya dengan harga paling murah 80 euro. Dengan kurs rupiah Rp. 14.000, maka harganya sama dengan delapan kali lipat dari harga aslinya di Indonesia. Bule itu mengaku, pada saat summer batik lengan pendek sangat laku. Tanggapan yang sangat menarik dilontarkan Buddy Ace. Selain mengkritisi sebagian komentar yang menurutnya belum ada yang mengungkap logika dasar dari gagasan awal, Buddy juga mengatakan, sesungguhnya pengembangan sarung Donggala sudah dicanagkan Peringdakop Donggala sejak 2004 silam. Rencananya, batik Donggala akan disejajarkan dengan produk batik lainnya di Jawa melalui indistri kreatif. Mantan broadcaster radio Nebula FM ini memberikan sedikit analisisnya tentang perkembangan batik. Menurutnya, secara tradisionil, motif batik tidak berkembang, karena coraknya hanya dari satu motif ke motif lainnya dan terus berputar di situ. Tetapi kemudian mengalami perkembangan hingga kemudian pihak akademis dari Institut Seni Indonesia di Jogjakarta, membuka kelas batik pada jurusan grafis. Dalam konteks Sulteng, kita punya batik yang populer dengan sebutan sarung Donggala. Lama sekali, tradisi sarung itu hanya berakhir sebagai sarung saja. Tapi kemudian berkembang menjadi jas dengan motif sarung Donggala, dengan kata lain sarung yang direvisi menjadi sebuah jas. Dan coraknya, yaa masih berputar-putar di situ, tak lebih dari 30-an corak. “Karena bahan jas-nya masih sama seperti bahan yang digunakan untuk sarung Donggala, Maka lihatlah, bagaimana pejabat kita kepanasan saat menggunakan sarung, eh batik Donggala di ruang pertemuan,” komentar Buddy di topik itu. Buddy lalu menyimpulkan diskusi itu dengan beberapa point :
Link terkait : |
| Berikutnya > |
|---|











Adalah 









.warcra...
WoW GOL...
WoW GOL...
WoW GOL...
WoW GOL...