CALL ME 0852-4117-5115

PENGUNJUNG

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini11
mod_vvisit_counterKemarin23
mod_vvisit_counterMinggu Ini34
mod_vvisit_counterBulan Ini121
mod_vvisit_counterTotal5522

KOMENTAR ARTIKEL

KOMENTAR

ShoutMix chat widget

MY YM

Home arrow News arrow Latest arrow FB dan batik lokal
FB dan batik lokal PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Andimiswar Personal Site   
Sabtu, 03 Oktober 2009
 Adalah Abubakar Hadado yang memosting soal batik di FB. Topik ini kemudian menjalar menjadi sebuah diskusi panjang dan menarik. Walaupun beberapa komentar out of topic [oot], namun tetap saja diskusi “liar” ini bisa menjadi inspirasi bagi kita di Sulteng untuk pengembangan batik lokal.

Untuk pengembangan batik lokal, Disperingdakop kota Palu sudah berupaya mengembangkan industri batik lokal. Melalui Camat Palu Utara yang saat itu dijabat Sudaryano Lamangkona sudah melakukan pembinaan dan bantuan permodalan beberapa pengrajin lokal-khususnya di Palu Utara– dan mendatangkan seorang tutor dari Pulau Jawa.

Menurut Anno- sapaan akrab Sudaryano–sampai saat ini, kelompok tersebut telah mendapat order dari sejumlah sekolah untuk seragam batik. Namun, kata Anno yang saat ini menjabat Kadis Pariwisata Kota Palu, kendalanya saat ini soal dana produksi untuk membeli bahan baku [....]

Wisnu Pettalolo, salah seorang pengurus HIPMI Pusat sangat tertarik dengan ide itu. Menurut Wisnu yang juga Ketua VI (Bidang Properti),  HIPMI secara moral sangat mendukung Pengembangan batik khas daerah. Lanjut Wisnu, pihak HIPMI sudah lebih awal menggalakkan pemakaian batik sehari-hari.  Pada tahun 1999, Ketua Umum Hipmi Muhammad Lutfi sering dicandain orang: “mau ke kondangan ya?”, kata Wisnu seperti dikutip dari diskusi di jejaring sosial itu.

Putra Donggala yang kini berkiprah di Jakarta ini mempunyai pengalaman soal batik saat berada di shopping centre Duomo Milan. Wisnu melihat seorang bule yang mengenakan batik. Wisnu pun mendekat dan menanyakan dimana beli batiknya. Bule itu lalu menunjukkan toko penjual batik yang ternyata milik bule itu sendiri.

Menurut bule itu, batik yangdijual di tokonya berasal dari Solo dan Jogja yang harganya Rp. 100 ribu perlembar. Tetapi bule itu menjualnya dengan harga paling murah 80 euro. Dengan kurs rupiah Rp. 14.000, maka harganya sama dengan delapan kali lipat dari harga aslinya di Indonesia. Bule itu mengaku, pada saat summer batik lengan pendek sangat laku.

Tanggapan yang sangat menarik dilontarkan Buddy Ace. Selain mengkritisi sebagian komentar yang menurutnya belum ada yang mengungkap logika dasar dari gagasan awal, Buddy juga mengatakan, sesungguhnya pengembangan sarung Donggala sudah dicanagkan Peringdakop Donggala sejak 2004 silam. Rencananya, batik Donggala akan disejajarkan dengan produk batik lainnya di Jawa melalui indistri kreatif.

Mantan broadcaster radio Nebula FM ini memberikan sedikit analisisnya tentang perkembangan batik. Menurutnya, secara tradisionil, motif batik tidak berkembang, karena coraknya hanya dari satu motif ke motif lainnya dan terus berputar di situ. Tetapi kemudian mengalami perkembangan hingga kemudian pihak akademis dari Institut Seni Indonesia di Jogjakarta, membuka kelas batik pada jurusan grafis.

Dalam konteks Sulteng, kita punya batik yang populer dengan sebutan sarung Donggala. Lama sekali, tradisi sarung itu hanya berakhir sebagai sarung saja. Tapi kemudian berkembang menjadi jas dengan motif sarung Donggala, dengan kata lain sarung yang direvisi menjadi sebuah jas. Dan coraknya, yaa masih berputar-putar di situ, tak lebih dari 30-an corak.

“Karena bahan jas-nya masih sama seperti bahan yang digunakan untuk sarung Donggala, Maka lihatlah, bagaimana pejabat kita kepanasan saat menggunakan sarung, eh batik Donggala di ruang pertemuan,” komentar Buddy di topik itu.

Buddy lalu menyimpulkan diskusi itu dengan beberapa point :

  1. Sarung Donggala sebagai corak dan motif busana, harus dikembangkan dalam dua aspek utama, yakni; corak dan bahannya.
  2. Corak atau motif hanya akan berkembang jika ada campur tangan seni grafis di dalamnya. Apakah kita punya seniman grafis yang memahami budaya lokal kita?
  3. Masalah akan muncul ketika kita melibatkan seniman batik lokal asal Jawa. Bukan soal primordialisme sempit, tapi ini soal cita rasa. Masyarakat Kaili tentu saja akan jauh lebih menguasai ketimbang seniman asal Jawa.
    Dalam pemahaman saya, sebelum melakukan revolusi motif, ada baiknya mengembangkan motif lokal yang sudah ada. Yang direvolusi adalah bahan yang digunakannya. Bahan sarung yaa untuk sarung, bahan jas tentu saja dari bahan katun yang atau sutra yang lebih lembut dan sudah pasti adem ayem.
  4. Selain dukungan eksekutif dan legislatif, persoalan industri kreatif tentu saja harus melibatkan perguruan tinggi. Kita memerlukan basis teori dalam pengembangan motif batik atau sarung Donggala itu.
  5. Industri kreatif, hanya akan berkembang di lapangan, bukan di ruang-ruang diskusi kosing tanpa grand concept dan action planed yang mumpuni.
Link terkait :
 
Comments
Add New Search
Archlord gold  - WoW GOLD     |123.145.160.xxx |2010-08-27 08:10:52
A YOUNG PIG was shut cheap aion kinah up in a fold-yard replica watches with a Goat and a aion gold Sheep.world of warcraft gold On one occasion when the shepherd fast wow gold laid hold of him,cd keys he grunted and squeaked and resisted violently. 2moons gold The Sheep and the Archlord gold Goat complained of world of warcraft power leveling his distressing cries,Eve isk saying,power leveling He often handles us,last chaos gold and we do not dog costumes cry out.Final Fantasy XI GIL To this the ms mesos Pig replied,Knight Gold "Your handling and mine are very aion kina different things.dog clothes He catches you Atlantica gold only for your wool, or your milk, but he lays hold on me for my very Eve isk life
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Berikutnya >
andimiswar firefox
Bookmark and Share